Tepat kelahiran putri pertama kami Camilla Anjani Septiadi.
Berat : 3 kg
Panjang : 49
Doa selalu dipanjatkan untuk Istri dan anakku di setiap sholatku
ya Allah ya Robbi aku memohon kepadamu
Berikanlah kemudahan istriku dalam mengandungnya berikanlah dia kelancaran atas proses kelahirannya nanti.
ya Allah ya Robbi
Aku berlindung kepadamu dan memohon kepadamu
Ringankanlah jalannya, engkaulah maha pencipta dan engkaulah yang menumbuhkannya kelak.
ya Allah ya Robb
Jagalah anakku di dalam kandungan istriku bentuklah dia yang bagus dan tetapkan lah iman hatinya padaMu dan Muhammad utusanmu layaknya aku, mimih, uyut dan orang-orang terdahulu sebelumnya.
ya Allah aku kembalikan kepadaMu segala daya dan kekuatanku,
Ya Allah ya Robb
Bantu aku Hembuskan kalimahmu seperti aku selalu membisikan ayatMu dan sholawat padanya dari umur 4 bulan kandungannya, Tanamkan Tauhid di dasar hati anakku ya Allah.
ya Allah ya Robb
Bantulah aku dalam mentarbiyah-kan dan jadikanlah anakku mujadid Agamamu dan sebagai pencinta Sunnah Rasulullah saw.
Pagi tanggal 9 Agustus 2009 di saat saya masih lelap tertidur sehabis sholat subuh pagi itu, seperti hari biasanya istri tercinta selalu membangunkan saya dengan ciuman ringan dan menebarkan senyumannya ke seluruh sudut ruang kamar tidur, sungguh surga Firdaus Duniawi buatku. Pagi itu ternyata itu istriku memberitahu “Ayah pagi ini aku keluar flek darah” dengan nada tenang sahut Ay pada telingaku lembut. Karena semua perlengkapan persalinan sudah siap dalam satu tas dari kandungan 7 bulan jadi kami tidak perlu panik dalam mempersiapkan semuanya hanya tinggal lebih mempersiapkan lagi mental kami “Kita tunggu sampai ada kontraksi yach sayang, rileks dan jalan-jalan ringan aja dulu” sahut ku pada cantik calon ibu. Disini yang terjadi bukan pendarahan Hebat tetapi keluarnya noda darah pada pakaian dalam, Namun untuk hal ini setiap pasangan yang menunggu persalinan harus juga waspada, Jika pendarahan banyak ibu langsung harus dibawa kerumah sakit tanpa harus menunggu kontraksi. Sampai dengan sore hari kontraksi pun masih belum terjadi yang ada hanya flek darah kecoklatan dan tidak ada reaksi yang terasa, kami berdua beranggapan mungkin masih lama lagi menuju kontraksi dan pembukaan jadi aktifitas pada hari itu pun kami lakukan seperti hari Minggu biasanya, sesekali mengigatkan si cantik calon ibu untuk selalu fokus nanti di saat persalinan tiba “fokus akan bertemunya sang buah hati” selebihnya menonton berdua istri di tempat tidur adalah hal yang paling menyenangkan di hari libur.
Sudah masuk malam pada hari itu tepatnya pukul 20.55 WIB kontraksi pertama sudah terjadi pada jam ini “Ayah kayanya ini dah mulai kontraksi deh” muka panik sudah mulai terlihat di wajah cantik calon ibu, coba di pake jalan karena yang ditakutkan kontraksi palsu sebelum persalinan. Kontraksi ini datang sekitar 3 kali berturut-turut per 20 menit sekali dan menghilang dalam waktu yang lama (tidak konsisten). Selang dalam waktu 1 jam kurang 10 menit kontraksi sudah semakin sering per 15 menit sekali dengan lama kontaraksi sekitar 45 detik perasaan kami semakin kuat ” Mungkin ini yang dinamakan kontraksi” saat mulas terjadi sesekali kami menekan dinding perut dengan tangan kami dan terasa sekali perut itu mengeras, itulah ciri dari kontraksi sesungguhnya seperti yang dikatakan satu buku yang kami baca. Tepat jam 22.30 WIB waktu itulah kami memutuskan untuk pergi kerumah sakit dikarnakan mulas yang mulai teratur per 10 menit sekali. Jarak rumah ke tempat persalinan tidaklah jauh karena dari jauh-jauh hari kami sudah mempersiapkan dan memilih siapa Dr-nya dan dimana proses persalinan terjadi. Kami berdua sudah memutuskan Dr. Winahyo Hardjoprakoso, Sp.OG yang akan membantu proses persalinan buah hati kami dan Hospital Cinere lokasi dimana proses persalinan itu terjadi sekitar 400m jarak tempuhnya dari rumah kami.
Sesampainya disana 22.40 WIB kami langsung masuk kedalam Ruangan Seruni (tempat persalinan terjadi), sambutan suster yang ramah membuat ketenangan yang baru buat kami, sementara itu sang ibu yang merindukan buah hati hanya sesekali tersenyum kepadaku bisa dibilang jarang, itu disebabkan rasa sakit teratur yang membuat dia terkadang seperti mengejang untuk menahannya ”sungguh luar biasa wanita ini”. Suster jaga pada saat itu langsung melakukan tugasnya dari memasangkan alat yang dilingkarkan ke perut dan diberikannya tombol pada tangan sang ibu, sepertinya sich alat untuk mengukur seberapa sering kontraksi dan seberapa lama kontraksi itu terjadi. Disaat semua itu terjadi kami tidak banyak melakukan percakapan apapun, tapi kami saling berpegangan tangan menguatkan satu dengan yang lain seolah tangan kami memberikan banyak kekuatan untuk melawan apapun yang akan terjadi didepan kami nanti mulut kami pun hanya bergumam masing-masing dzikir dan sholawat yang bisa menenangkan kami berdua, setelah alat yang dipasangkan dilepas, suster jaga ingin memeriksa lebih lanjut dan saya disuruhnya menunggu dibalik tirai, setelah selesai suster jaga tersebut hanya memberikan informasi ”sudah masuk pembukaan 2 yah pak” semakin malam mulas semakin hebat dan frekwensinya sangatlah semakin sering membuat cengkraman tangan Ay yang menggenggam tanganku semakin kuat dan sangat kuat sekali, aku tidak bisa membayangkan betapa hebatnya sakit yang dirasakan istriku pada saat itu. Lagi-lagi ku berdoa ”Ya Allah beri kemudahan untuk istri hamba ya Allah andaikan bisa berbagi padaku rasa sakit yang dideritanya berikan padaku agar dia tidak merasakan seluruhnya” Ciumku pada keningnya pada waktu itu dan berkata dalam hati ”Sungguh luar biasa Wanitaku semoga kehadiranku memberikan banyak ketenangan buatmu”. Tak terasa hampir semalaman kami berdua tidak tidur tepat jam 5.00 WIB suster jaga masuk kembali untuk melakukan pemeriksaan ”Sudah masuk pembukaan 5 yach pak” sahut suster jaga kepadaku. Jam inilah dimana mulas datang dengan sangat cepat mungkin sudah per 2 menit sekali sungguh tak tahan aku melihat wanita hebat dihadapanku merasa sangat kesakitan namun muka ini selalu berbohong seolah-olah aku merasa tenang dengan semuanya itu.
“Al-Jannatu tahta aqdamil ummahat – Surga itu di telapak kaki ibu”
Tak pernah terbayang seperti apa dan kenapa surga di telapak kaki ibu? Hadist pendek namun kaya makna ini yang membuatku ”Subhanallah wanita/ibu dengan segala perjuangan yang dilakukan untuk anak” sepertinya airmata ini sudah menumpuk banyak dalam tenggorokanku, makna dalam hadist itu nyata di hadapanku sekarang ”proses Jihad kebahagian yang sedang diperjuangkan istriku”. Pengalaman alamiah yang membuatku yakin akan agamaku ”La ilah ha illallah Muhammadarrasulullah”.
Jam 7.30 WIB suster sepertinya sudah mempersiapkan ruang persalinan dan mulailah istriku dipindahkan ke ruang persalinan tersebut pada saat ini keadaan si cantik calon ibu hanya mengatur nafas agar dapat mengimbangi rasa sakit yang ia derita tak jarang aku dengar dzikir dari mulut yang bergumam yang terdengar oleh desahan nafasnya, waktu pun terus berputar masuk pembukaan 7, 8, 9 dan 10 tepat jam 10.30 WIB di posisi inilah biasanya secara emosional, calon ibu mengalami perasaan tak berdaya dan pasrah. Bingung, gelisah, dan sulit memusatkan perhatian, apalagi istirahat. Tak jarang pula ia frustrasi karena belum ada instruksi untuk mengejan, sementara dorongan ke arah sana sudah muncul. Dokter memang akan melarang ibu mengejan sebelum pembukaan sempurna betul agar tak terjadi kesulitan saat pengeluaran bayi. Tapi sungguh luar biasa wanitaku dia bisa mengatur nafas dari proses awal, dia bisa menjaga emosional keinginan untuk mengejang, tidak ada teriakan yang aku dengar yang ada hanya hembusan nafas dan tatapan kosong padaku itu yang membuatku terkagum-kagum pada si cantik calon ibu.
Informasi mengejang pun sudah di ucapkan dokter, Tarik nafas yang dalam, sementara kontraksi terjadi. Tarik nafas sekali lagi dan tahan. Saat kontraksi mencapai puncaknya, doronglah (mengejan) sekuat mungkin sahut Dr. Win pada istriku. Mengejanlah sekuat mungkin tapi tetap seirama dengan instruksi dokter. Makin efisien dorongan dari ibu, makin memudahkan bayi keluar. Dorongan yang panik dan tak teratur hanya akan menghamburkan tenaga dan hanya sedikit kemajuan yang dicapai. Istriku terlihat sangat bersemangat karena ku tau dia ingin sekali cepat selesai semuanya karena sudah sangat merindu pada si buah hati. Setiap kontraksi istriku mengejang sekuat tenaga dan dilakukan berulang sebanyak tiga kali, setelah kontraksi yang ke 3 dengan total mengejang 9 kali Jam 11.00 WIB buah hati meluncur ke tangan dokter Win seolah dia tertidur lemas putih bersih ”Anak kita sudah lahir Ay” seyum sang ibu semeringah melihat kelahiran putri cantiknya, Dokter anak pun langsung membersihkan semua yang ada pada tubuh bayi tangisan kencang terdengar syahdu kegembiraan luar biasa yang tercampur aduk dalam hati ini. Pak di adzan-kan anaknya sahut dokter anak padaku, langsung saja ku dekatkan bisikanku pada telinga kanan buah hatiku lagi-lagi ini pengalaman luar biasa buatku sentuhan pertama ini menghangatkan hati, adzan pada telinga kanan membuat air mata ini tak hentinya menagis haru iqomah pada telinga kiri membuatku terus manangis terseguk-seguk. ”Terima kasih ya Allah atas semua yang kau berikan padaku”. Setelah semua selesai kembalilah akau melihat istriku yang sudah berjuang dan terkulai lemas dan kubisikkan di samping telinganya ”Terima kasih sayang sungguh luar biasa apa yang kau torehkan hari ini Camilla Anjani Septiadi anak kita telah lahir selamat tak kurang sedikit apapun. Dengan berat 3kg dan panjang 49cm sayang” ia pun tersenyum tenang dengan sesekali mengedipkan matanya karena hawa ngantuk yang sedang menerjangnya setelah habis berjuang.
Keluarlah aku dari ruang persalinan dan mengabarkan kepada semua yang ada diruang tunggu, semuanya menyambut gembira atas kabar tersebut.
Selamat datang sayang.
Arti sebuah namaCamilla, Sempurna
Anjani, Di ambil dari kata Gunung Rinjani
Septiadi, Sudah pasti nama ayahnya









