Di tepi pundak sahabatku aku menangis
Berkeluh kesah apa yang kurasa saat itu
“ IYa yah orang itu menyebalkan sekali seperti ia terkaya dalam kota ini”
Sahutku pada sahabat sebelah mejaku
Lagi2 aku mengeluhkan apa yang terjadi pada pengalaman kerjaku saat itu
Di tepi pundak sahabatku kembali lagi ku menangis
“ Huh gila tuh orang kaya mulutnya punya sendiri “
Sahutku pada sahabatku kembali
Lagi2 aku mengeluh akan profesiku saat itu
Sahabatku tersenyum
Ia sesakali berkata kesedihan senantiasa dibayangi air mata
Cucurannya senantiasa melukakan
“ itu hanya sebagian kecil yang kita rasa teman “
Itu hanya percikan api kecil tuk menoreh kedewasaan profesimu
Tidak sebanding dengan tawa
Tak sebanding dengan riang yang kita raih hari demi hari
Sahabat sebelah mejaku
Kembali menatap dengan ketenangan yang dia punya
Sesekali lagi dia berkata DIANTARA KELUH KESAHKU AKAN PEKERJAANKU HARI ITU
“ itu hanya kerikil tajam yang sedikitpun tak bisa melukaimu “
TAK SEBANDING TEMAN…TAK SEBANDING
Dengan keindahan kebersamaan yang kita punya
Yang menjadikan hari yang tak bisa kau peroleh dan yang tak tercipta oleh benci.
Saatku pulang…
Di tepi pundak ibu aku menangisku tundukkan sejuta haru dan isak tangisku yang melaut Aku kehabisan air serasa digurun pasir yang tak bertuansetetes embun pun tak sudi membasahi tenggorokkan ini
Ketika kita semua berkata pada ibu sepulang kita bekerja
“Ibu, aku masih anakmu kan ?”“Ibu, mengapa kini lelah mulai merajang dalam tubuhku
“Awan pun selalu menghalangi angkuhnya ambisiku”
Aku lelah bu meniti hari merangkul bulan demi bulan
Seakan kerja ini tak ada habisnya dalam duniaku
Kerja ini cucuran air mata
Kerja ini terkadang pahatan hati tak kala omelan…ringkihan kata sinis yang semuanya aku tau sebetutulnya bukan buatku
Aku perlu Ibu saat itu terjadi
Aku mau ibu melandasi pola pikir kedewasaan pekerjaanku
Beri aku khayalan yang tinggi akan wajah cantikmu
Tak kala pahatan itu menerjangku
Agar aku merasa pahatan ini tak terasa sakit dalam telingaku
Agar semua tak menyakitkan dalam hati
Karena ibu penenang dalam kerjaku.
Diawali semua dengan doa
Kan kurenggut hari depan dan menjadikan Ibu dan Sahabat sebagai Inspirasiku
Berkeluh kesah apa yang kurasa saat itu
“ IYa yah orang itu menyebalkan sekali seperti ia terkaya dalam kota ini”
Sahutku pada sahabat sebelah mejaku
Lagi2 aku mengeluhkan apa yang terjadi pada pengalaman kerjaku saat itu
Di tepi pundak sahabatku kembali lagi ku menangis
“ Huh gila tuh orang kaya mulutnya punya sendiri “
Sahutku pada sahabatku kembali
Lagi2 aku mengeluh akan profesiku saat itu
Sahabatku tersenyum
Ia sesakali berkata kesedihan senantiasa dibayangi air mata
Cucurannya senantiasa melukakan
“ itu hanya sebagian kecil yang kita rasa teman “
Itu hanya percikan api kecil tuk menoreh kedewasaan profesimu
Tidak sebanding dengan tawa
Tak sebanding dengan riang yang kita raih hari demi hari
Sahabat sebelah mejaku
Kembali menatap dengan ketenangan yang dia punya
Sesekali lagi dia berkata DIANTARA KELUH KESAHKU AKAN PEKERJAANKU HARI ITU
“ itu hanya kerikil tajam yang sedikitpun tak bisa melukaimu “
TAK SEBANDING TEMAN…TAK SEBANDING
Dengan keindahan kebersamaan yang kita punya
Yang menjadikan hari yang tak bisa kau peroleh dan yang tak tercipta oleh benci.
Saatku pulang…
Di tepi pundak ibu aku menangisku tundukkan sejuta haru dan isak tangisku yang melaut Aku kehabisan air serasa digurun pasir yang tak bertuansetetes embun pun tak sudi membasahi tenggorokkan ini
Ketika kita semua berkata pada ibu sepulang kita bekerja
“Ibu, aku masih anakmu kan ?”“Ibu, mengapa kini lelah mulai merajang dalam tubuhku
“Awan pun selalu menghalangi angkuhnya ambisiku”
Aku lelah bu meniti hari merangkul bulan demi bulan
Seakan kerja ini tak ada habisnya dalam duniaku
Kerja ini cucuran air mata
Kerja ini terkadang pahatan hati tak kala omelan…ringkihan kata sinis yang semuanya aku tau sebetutulnya bukan buatku
Aku perlu Ibu saat itu terjadi
Aku mau ibu melandasi pola pikir kedewasaan pekerjaanku
Beri aku khayalan yang tinggi akan wajah cantikmu
Tak kala pahatan itu menerjangku
Agar aku merasa pahatan ini tak terasa sakit dalam telingaku
Agar semua tak menyakitkan dalam hati
Karena ibu penenang dalam kerjaku.
Diawali semua dengan doa
Kan kurenggut hari depan dan menjadikan Ibu dan Sahabat sebagai Inspirasiku
2 comments:
N Mother always be spririt N Give of pray for us every time..
Karna itu,
Kita semua selalu mudah menjalani kehidupan ini.
thanks for your comments Maharani
Post a Comment